Sejak maraknya TV merekam dan menyiarkan berbagai aktivitas dan keunikan peristiwa di muka bumi ini, serta tersedianya TV juga di berbagai rumah dan tempat lainnya membawa berbagai kemaslahatan atau keberuntungan bagi masyarakat. Yang pertama, masyarakat menjadi tahu, terbuka pikirannya dan matanya, banyak tahu tentang berbagai kejadian dan kekayaaan duniawi yg bisa dilihat dan terjadi di mana-mana. Berbagai budaya, berbagai adat istiadat, kesenian, peristiwa politik, dan seabrek lainnya. Di samping hal-hal positif tadi tentu ada juga yang berefek negatif. Seperti penayangan peristiwa kriminal atau kejahatan, berupa teror, video tak layak tayang, demo anarkis, kadang-kadang dicontoh atau menjadi inspirasi bagi orang yang kebetulan sehaluan dengan acara TV itu. Ini yang perlu kita ulas sedikit.
Kita tidak anti demo, tidak! Demo boleh, bahkan perlu sebagai ciri atau busana demokratisasi ini. Namun yg kita harus upayakan bersama adalah demo yg berbudaya, demo yg tidak mengumbar amarah, demo yang tidak mencaci-maki orang, demo yang sopan, tertib bahkan menarik untuk ditonton, kalau bisa!
Penulis pernah melihat demo di Den Haag, saat kami kebetulan hendak melihat obyek wisata gedung Mahkamah Internatioanl di sana. Pada awalnya kami tidak menyangka, kalau mereka itu sedang melakukan demo, karena mereka berdiri dan berderet rapi menghadap ke pintu agak jauh dari pintu masuk dengan membawa spanduk kecil-kecil. Gedung yang berpagar tinggi dan anggun itu kelihatannya sedang tertutup. Mereka (para pendemo) berdiri TIDAK sambil berteriak-teriak apalagi menggoyang-goyang pagar seperti yg sering kita lihat di negeri kita. Setelah beberapa menit, petugas dari Gedung Mahkamah keluar, berbincang sebentar, kemudian mereka bersalaman dan bubar dengan tertib. Nah begitu saja. Saya melihat, tidak ada wajah marah atau kesal. Saya tahu karena saya kebetulan berada di depan gedung yang sama dan berbaur dengan mereka sesudah mengambil beberapa gambar.
Rupanya para pendemo itu mengerti, bahwa di sana juga ada kunjungan beberapa bus wisata, dan mereka tidak mau menggangu apalagi menghalang halangi kamera-kamera yang hendak menjepret kemegahan gedung tersebut. Mereka sadar dan menghargai orang-orang yang punya kepentingan lain di tempat yang sama.
Maka itulah, salah satu tayangan TV yang perlu dicermati di sini adalah kegiatan demo. Tentu bukan demo masak atau demo produk yg dimaksud, melainkan demontrasi massa yang dilakukan terhadap sasarannya dengan turun kejalan/pawai tanpa memperhatikan kepentingan umum.
Demo yang disorot dan ditayangkan TV secara terus-menerus dan kadang-kadang dengan close-up (rekam muka secara dekat) rupanya membuat banyak orang bersemangat ikut, apalagi di sana misalnya ada imbalan berupa uang makan, uang bensin, pakain seragam dsbnya. Tanpa pikir panjang terhadap akibat yang akan ditimbulkannya nanti, mereka --maaaf-- yg kebetulan kurang kerjaan, sangat bersemangat untuk bisa disorot, syukur-syukur di-close up, sehingga masyarakat jadi mengenalnya nanti. Entah peran sebagai pemberani, tukang cuap-cuap seperti dagang obat jaman tahun 60-an, atau sekadar tukang bawa bendera atau penggenap barisan, tidak masalah baginya. Utamanya adalah masuk TV. Soal pemahaman dan tujuan demo soal lain. "Emang gua pikirin", kata orang-orang demikian. Yang penting "gua bisa mejeng di TV", sahutnya. "Yang penting saya sudah terkenal dan dilihat di TV" kata yang lain dengan pongah.
Nah imbas semangat demo "tanpa modal" ini juga akhirnya menular ke mana-mana, termasuk ke desa-desa. Orang-orang yg dulunya lugu, polos dan bahkan cenderung tertutup, sekarang menjadi berani dan seringkali jadi beringas jadi-jadian. Jadi-jadian, karena mereka sebenarnya tak tahu persis apa motif demonya, tapi karena diajak pihak lain dan akhirnya terprovokasi seperti jangkrik diberi perangsang, jadilah "pejuang 45" di jalan-jalan utama kota! Demo anarkis mereka kadang tidak tahu. Yang mereka tahu, mereka menjadi marah atau brutal karena ikut teman, atau karena ada komando. Bisa juga karena lapar/kehausan, sementatara logistiknya belum tiba. Anehnya lagi, demo macam ini bisa membuat ketagihan manakala mereka sudah jelas-jelas berbuat onar, melanggar ketertiban umum, melanggar aturan, sebagaimana sempat mereka tonton di TV, sendirian atau ramai-ramai dengan teman-temannya, namun tidak ada penindakan berarti dari aparat keamanan (polisi). Selanjutnya lagi, masyarakat pendemo yg sudah berulang-ulang dengan tuntutan yang sama namun tidak terkabulkan sering menjadikan pemerintah daerahnya sebagai musuh.
Akhirnya ada desa yang membalas dengan cara non-demo, tetapi sebenarnya demo juga, yaitu melarang atau memboikot aparat Pemdanya datang ke daerahnya. Entah itu dalam rangka peninjauan atau bahkan untuk memberi sumbangan. Sesuatu yang ganjil memang.
Pokonya sekarang, siapa yang memegang pengeras suara dan bersuara lantang, dialah yang paling tahu dan paling benar! Begitukah aktualisasi diri??